Sabtu, 25 Agustus 2012

Shalat Jama'




Masjid Gunungsari Indah Surabaya mempublikasi tentang Shalat Jama’ yang sumber pustakanya dari Komunitas Remaja Muslim Persyarikatan Muhammadiyah PCM Gedangsari (http://pcmgedangsari.blogspot.com). Adapun  materi Shalat Jama’ sebagai berikut :
..........................
Shalat jama’ adalah menggabungkan dua shalat wajib dalam satu waktu. Shalat yang dapat di jama’ adalah shalat dhuhur dengan shalat ashar dan shalat maghrib dengan shalat isya’. Sedangkan shalat subuh tidak diperbolehkan shalat jama’. Jama’ di bagi menjadi dua yaitu jama’ taqdim dan jama’ takhir. Jama’ taqdim adalah menjama’ dua shalat dan di kerjakan di waktu yang pertama. yaitu menjama’ shalat dhuhur dan ashar di kerjakan diwaktu dhuhur atau menjama’ antara shalat maghrib dan isya’ dikerjakan di waktu maghrib. Dalilnya adalah hadis dibawah ini:
عن معاذ رضي الله عنه: أن النبي صلّى الله عليه وسلم كان في غزوة تبوك إذا ارْتَحَلَ بعْدَ المغربِ عَجَّلَ الَعِشَاءَ فَصَلاهَا مع المغربِ (رواه أحمد وأبو داود والترمذي وحسنه، والدارقطني والحاكم، والبيهقي وابن حبان وصححاه) ((نيل الأوطار: 213/3ومابعدها)
Dari Muadz ra. Sesungguhnya nabi SAW dalam perang tabuk, apabila beliau melakukan perjalanan setelah maghrib beliau mempercepat isya’nya sehingga ia shalat isya’ bersama dengan maghrib. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi menghasankan hadis ini, ad-Daruqudni, Hakim. Baihaqi dan Ibnu Hibban menshahihkannya)(Nailul Authar: 3:213)
Sedangkan jama’ takhir adalah menggabungkan dua shalat fardhu dan dikerjakan di shalat yang akhir. Yaitu melaksanakan shalat dhuhur dengan ashar dikerjakan di waktu ashar dan melaksanakan shalat maghrib dan isya’ dikerjakan diwaktu isya’. Dalilnya adalah hadis di bawah ini:
فَقَالَ أَنَسٌ: كَانَ رَسُوْلُ الله صلّى الله عليه وسلم إِذَا رَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ ـ تمَِيْلَ ظُهْراً ـ الشَّمْسُ، أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ نَزَلَ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا، فَإِنْ زَاغَتْ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ رَكِبَ (متفق عليه) (نيل الأوطار: 212/3)
Anas berkata: Rasulullah SAW apabila berpergian sebelum matahari condong (condong dhuhur) beliau mengakhirkan dhuhur sampai waktu ashar, kemudian beliau turun dari (kendaraan) menjama’ keduanya, kemudian jika matahari telah condong sebelum beliau melakukan perjalanan maka beliau shalat dhuhur kemudian mengendarai kendaraannya. (Muttafaq ‘Alaih) (Nailul Authar: 3:212)
Kemudian dalam hadis yang lain menyebutkan:
عَنْ مُعَاذٍ بْنِ جَبَلٍ، أَنَّ النَبِيَّ- عَلَيْهِ السَّلاَمُ- كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوْكٍ إِذَا ارْتَحَلَ قبلَ أَن تَزِيغَ الشَّمْسُ أخَّرِ الظهرَ حَتَّى يَجْمَعَهَا إِلَى الْعَصْرِ، فَيُصَلِّيْهَا جَمِيْعًا، وَإِذَا ارْتَحَلَ بعدَ زَيْغِ الشَّمْسِ صَلَّى الظُّهْرَ والعَصرَ جَمِيْعًا، ثُمَّ سَارٍ، وَكاَنَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ الْمَغْرِبِ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يُصَلِّيْهَا مَعَ العِشَاءِ، وَ إِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ عَجَّلَ الَعِشَاءَ فَصَلاَّهَا مَعَ الْمَغْرِبِ (الترمذي: كتاب الصلاة، باب: الجمع بين الصلاتين (553)
Dari Muadz bin Jabal, sesungguhnya Nabi SAW dalam perang Tabuk apabila beliau melakukan perjalanan sebelum matahari condong beliau mengakhirkan dhuhur hingga beliau menjama’nya sampai ashar hingga beliau shalat. Dan apabila beliau bepergian setelah matahari condong maka beliau menjama’ dhuhur dan ashar kemudian pergi. Dan apabil beliau bepergian sebelum maghrib maka beliau mengakhirkan maghrib hingga beliau menjama’nya dengan isya’. Dan apabila bepergian setelah maghrib maka beliau mempercepat isya’nya sehingga menjama’nya dengan shalat maghrib. (HR. Tirmidzi: Kitab Shalat; Bab menjama’ diantar dua shalat)
A. Kondisi di perbolehkannya jama’
Menjama’ shalat tidak hanya dikhususkan pada saat bepergian saja. Shalat jama’ lebih umum dari shalat Qashar, karena mengqashar shalat hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Sedangkan menjama’ shalat bukan hanya untuk orang musafir, tetapi boleh juga dilakukan oleh orang yang mukim.
Terdapat beberapa riwayat yang membolehkan jama’ dalam keadaan tidak safar (mukim) antara lain sebagai berikut:
1. Menjama’ shalat karena turun hujan
Boleh menjama’ shalat dhuhur dan ashar, maghrib dan isya’ pada saat bermukim karena hujan. Hanya saja imam Malik menhkhususkan kebolehannya pada saat malam hari.
Hal ini berdasarkan dalil di bawah ini:
a. Hadis Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah SAW menjama’ shalat dhuhur dan ashar, maghrib dan isya’ di madinah tanpa adanya rasa takut dan tanpa ada hujan. (HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : جَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْمَدِينَةِ ، فِي غَيْرِ سَفَرٍ وَلا خَوْفٍ ، قَالَ : قُلْتُ يَا أَبَا الْعَبَّاسِ : وَلِمَ فَعَلَ ذَلِكَ ؟ قَالَ : أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ. (احمد: 1: 283)
"Ibnu Abbas berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ antara shalat Dhuhur dan Ashar di Madinah bukan karena bepergian juga bukan takut. Saya bertannya; Wahai Ibnu Abbas, kenapa bisa demikian? Dia menjawab: Dia tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya".
Dari sini para sahabat memahami bahwa rasa takut dan hujan bisa menjadi udzur untuk seseorang menjama’ shalatnya, seperti seorang yang sedang musafir. Dan menjama’ shalat karena hujan adalah terkenal di zaman Nabi. Itulah sebabnya dalam hadis di atas hujan di jadikan sebab yang membolehkan untuk menjama’ (Al-Baniy, Irwa’, III/40)

b. Dari Hisyam bin ‘Urwah bahwa ayahnya urwah bersama sa’id bin musayyab dan Abu Bakr bin Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam bin mughirah al-makhzumi, menjama’ antara maghrib dan isya’ ketika hujan turun pada malam hari, ketika mereka menjama’ shalat, tidak ada seorangpun yang mengingkari hal itu. (HR. Al-Baihaqi)
2. Menjama’ karena ada keperluan dan karena sakit.
Dalam riwayat Ibnu Abbas berkata: Rasulullah Saw menjama’ antara shalat Dhuhur dan Ashar di Madinah bukan karena bepergian juga bukan takut. Saya bertanya: Wahai Ibnu Abbas, kenapa bisa demikian? Dia menjawab: dia tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya. (HR.Muslim)
Imam Nawawi dalam kitabnya syarah Muslim V/215, dalam mengomentari hadis ini mengatakan, mayoritas ulama membolehkan menjama’kan shalat bagi mereka yang tidak musafir bila ada kebutuhan yang sangat mendesak, dengan catatan tidak menjadikan yang demikian sebagai tradisi (kebiasaan). Pendapat demikian juga dikatakan oleh Ibnu Sirin, Asyhab, Ishaq Almarwazi dan Ibnu Mindzir, berdasarkan perkataan Ibnu Abbas ketika mendengar hadits Nabi di atas, “beliau tidak ingin memberatkan umatnya sehingga beliau tidak menjelaskan alasan menjama’ shalatnya, apakah karena sakit atau musafir.
Syaikhul Islam berkata: “para buruh dan petani, jika pada waktu tertentu memberatkan mereka, misalnya air jauh dari tempat shalat. Jika mereka pergi kesana untuk bersuci, terbengkalailah pekerjaan yang di butuhkan, maka mereka boleh mengerjakan shalat pada satu waktu dengan menjama’ di antara dua shalat. (Majmu’ Fatawa (XX/458)
Kemudian bagi Orang yang sakit boleh menjama’ shalatnya yaitu orang yang merasa kesulitan mengerjakan tiap-tiap shalat tepat pada waktunya. Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Abbas yang telah lalu. Pendapat ini yang dipegangi oleh Imam Malik dan Ahmad begitu pula Syaikhul Islam.
B. Pelaksanaan Jama'
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa menjama' shalat merupakan keringanan yang diberikan Allah swt, baik karena takut, hujan, bepergian atau tidak ada sebab apapun. Hal ini dikuatkan lagi oleh beberapa hadits berikut:

"Rasulullah SAW menjamak sholat magrib dan isya pada malam yang hujan. Dalil lainnya yaitu salah satu perbuatan sahabat, dari Nafi’: bahwa Abdullah Ibnu Umar sholat bersama para umara (pemimpin) apabila para umara tersebut menjamak shalat magrib dan isya pada waktu hujan". (HR Bukhori)

"Rasulullah SAW menjamak antara sholat zuhur dan ashar dan antara sholat magrib dan Isya bukan karena rasa takut dan hujan". (HR Muslim)
Kesimpulannya: Dalam kondisi normal, shalat harus dilaksanakan secara terpisah-pisah antara dhuhur dan ashar, dan antara maghrib dan isya', maka keringanan menjama' diberikan karena adanya sebab tertentu. Meskipun dalam beberapa hadits tidak disebutkan sebab Nabi menjama' shalat, namun sebagian ulama tetap meyakini Nabi memiliki sebab yang tidak diketahui oleh sahabat. Karena itulah, sebaiknya shalat dikerjakan secara terpisah ketika dalam kondisi normal. Hanya saja sebagaian ulama membolehkan jama' shalat tanpa sebab dengan syarat sekali-kali saja dan tidak menjadi kebiasaan.
Hadits-hadits cara menjama' shalat
أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ سَوَّادِ بْنِ الْأَسْوَدِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا جَابِرُ بْنُ إِسْمَعِيلَ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَس عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا عَجِلَ بِهِ السَّيْرُ يُؤَخِّرُ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَيُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ حَتَّى يَغِيبَ الشَّفَق
( أخبرنا ) : ابن أبي يحي عن حُسين بنِ عَبد اللَّه بن عبيدِ اللَّه بن عباس عن كُرَيْبٍ عن ابن عباس رضي اللَّه عنهما أنه قال : - ألاَ أُخبركم عن صلاةِ رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم في السفرِ ؟ كان إذا زالتِ الشمسُ وهو في منزله جمع بين الظهر والعصر في الزوال فإذا سافر قبلَ أن تزول الشمسُ أخّرَ الظُّهْرَ حتى يَجْمَعَ بينهما وبينَ العصر في وقْتِ العصْر

Dari Muadz bin Jabal bahwa Rasululloh SAW apabila beliau melakukan perjalanan sebelum matahari condong (masuk waktu sholat zuhur), maka beliau mengakhirkan shalat zuhur kemudian menjamaknya dengan sholat ashar pada waktu ashar, dan apabila beliau melakukan perjalanan sesudah matahari condong, beliau menjamak sholat zuhur dan ashar (pada waktu zuhur) baru kemudian beliau berangkat. Dan apabila beliau melakukan perjalanan sebelum magrib maka beliau mengakhirkan sholat magrib dan menjamaknya dengan sholat isya, dan jika beliau berangkat sesudah masuk waktu magrib, maka beliau menyegerakan sholat isya dan menjamaknya dengan sholat magrib. (Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِى السَّفَرِ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ. 1/390
Adalah Rasulullah SAW dalam peperangan Tabuk, apabila hendak berangkat sebelum tergelincir matahari, maka beliau mengakhirkan Dzuhur hingga beliau mengumpulkannya dengan Ashar, lalu beliau melakukan dua shalat itu sekalian. Dan apabila beliau hendak berangkat setelah tergelincir matahari, maka beliau menyegerakan Ashar bersama Dzuhur dan melakukan shalat Dzuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau berjalan. Dan apabila beliau hendak berangkat sebelum Maghrib maka beliau mengakhirkan Maghrib sehingga mengerjakan bersama Isya’, dan apabila beliau berangkat setelah Maghrib maka beliau menyegerakan Isya’ dan melakukan shalat Isya’ bersama Maghrib“. (HR Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjama antara Zhuhur dan Ashar jika berada dalam perjalanan, juga menjama antara Maghrib dan Isya. (HR Bukhari)

TERTIB ANTARA DUA SHALAT YANG JAMA’
Jumhur ulama' sepakat mengenai urutan shalat yang dilakukan ketika jama' taqdim; yaitu dhuhur lalu ashar, dan maghrib lalu isya'. Mereka berbeda pendapat mengenai urutan tersebut ketika dilakukan ketika melaksanakan jama' ta'khir; apakah shalat dhuhur terlebih dahulu ataukah ashar, maghrib ataukah Isya' dulu?
Memang tidak ada dalil khusus mengenai urutan shalat yang dilakukan ketika jama' ta'khir. Berbagai hadits tidak menyebutkan urutan tersebut, kecuali hanya persepsi dan interpretasi yang terlalu jauh. Karena itu, yang benar adalah kembali kepada urutan shalat dalam kondisi normal, yaitu shalat dhuhur dulu baru ashar, maghrib dahulu baru isya'. Karena setiap shalat wajib di letakkan pada tempat yang telah di tentukan oleh syariat secara berurutan. Rasulullah saw bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي (متفق عليه)
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari-Muslim)
Wallahu a’lam bishawab
..................................

Kamis, 16 Agustus 2012

Tata Cara Shalat Tahajud dan Shalat Dhuha


Masjid Gunungsari Indah Surabaya mempublikasi tentang tata cara shalat Tahajud dan tata cara shalat Dhuha yang materinya bersumber pada Tim Fatwa MajelisTarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.Adapun tata cara shalat Tahajud dan tata cara shalat Dhuha sebagai berikut :


Tata Cara Shalat Tahajud

1.      Waktu pelaksanaannya adalah setelah shalat isya sampai sebelum waktu shubuh. (Berdasarkan HR. al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah). Tetapi yang paling baik adalah pada sepertiga akhir malam (Berdasarkan HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Jabir).
2.      Shalat tahajud boleh dikerjakan secara berjamaah (berdasarkan HR. Muslim dari Ibnu 'Abbas), dan boleh juga dilakukan sendirian.
3.      Diawali dengan shalat iftitah dua rakaat. (Berdasarkan HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Abu Hurairah). Adapun cara melaksanakan shalat iftitah adalah sebagai berikut:
a.       Sebelum membaca al-Fatihah pada rakaat pertama, membaca do'a iftitah:
سُبْحَانَ اللهِ ذِي الْمَلَكُوْتِ وَالْجَبَرُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
"Subhaanallaahi dzil-malakuuti wal-jabaruuti wal-kibriyaa’i wal 'adzamah". Artinya: “Maha suci Allah, Dzat yang memiliki kerajaan, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan.”
b.      Hanya membaca surat al-Fatihah (tidak membaca surat lain) pada tiap rakaat. (Berdasarkan HR. Abu Daud dari Kuraib dari Ibnu 'Abbas). Adapun bacaan lainnya seperti; bacaan ruku’, i'tidal, sujud dan lainnya sama seperti shalat biasa.
c.       Shalat iftitah boleh dilakukan secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. (Berdasarkan HR ath-Thabrani dari Hudzaifah bin Yaman)
4.      Setelah itu, melaksanakan shalat sebelas rakaat. Beberapa hadis Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa shalat tahajud bisa dilaksanakan dengan berbagai cara, di antaranya adalah:
a.       Melaksanakan empat rakaat + empat rakaat + tiga rakaat (4 + 4 + 3 = 11 rakaat). (Berdasarkan HR. Al-Bukhari dari 'Aisyah)
b.       Dua rakaat iftitah + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + dua rakaat + satu rakaat (2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 1 = 13 rakaat). (Berdasarkan HR. Muslim dari 'Aisyah).
5.      Pada shalat witir, hendaknya membaca surat al-A'la setelah al-Fatihah pada rakaat pertama, surat al-Kafirun pada rakaat kedua, dan al-Ikhlas pada rakaat yang ketiga. Setelah salam, sambil duduk membaca:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ (3x)
“Subhanal-malikil-qudduus.” (3x)
Artinya: “Maha Suci (Allah), Dzat Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Suci.”,
dengan mengeraskan dan memanjangkan pada bacaan yang ketiga, lalu membaca:
 رَبِّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ
“Rabbil-malaaikati war-ruuh”.
Artinya: “Yang Menguasai para malaikat dan ruh.”
(Berdasarkan HR. al-Baihaqi, juz 3/ no. 4640; Thabrani, juz 8/ no. 8115; Daruqutni, juz 2/ no. 2, dari Ubay bin Ka'ab. Hadis ini dikuatkan oleh 'Iraqi)

Sabtu, 11 Agustus 2012

Hubungan Erat Antara Keimanan dan Kemajuan oleh DR. Mohammad Damami, M.Ag


Tidak jarang orang beranggapan,  bahwa pencapaian kemajuan  kehidupan manusia seperti sekarang  ini didasarkan pada kemampuan dan  kekuatan manusia dalam memanfaatkan olah falsafahnya. Atau  dengan lain perkataan, kemajuan kehidupan manusia banyak  ditentukan oleh kekuatan filsafat.
Banyak  yang sangat percaya, bahwa dengan temuan falsafah, seperti falsafah Rasionalisme dan Eksperimentalisme, maka berkembanglah  ilmu pengetahuan yang beranak-kandung teknologi dengan  sesatnya. Bahwa  manakala manusia secara serius mau  memeras otak dan kecerdasannya serta  tekun  melakukan percobaan-percobaan  dalam hal apa saja, maka akan majulah kehidupannya. Begitulah kira-kira ilustrasi  anggapan banyak orang dewasa ini.
Namun, ketika kemajuan kehidupan telah dicapai, tak  jarang pula terdengar keluhan,  bahwa justru setelah mencapai apa yang disebut"kemajuan kehidupan"tersebut malahan merasa makin jauh dari rasa puas dan  tidak merasa sejuk hati. Atau  dengan lain perkataan, hidup terasa makin "kering" "kurang bermakna", "hilang tujuan hidup" "serba  mekanis dan robotis", dan sebagainya.
Mengapa hal seperti ini, keadaan yang serba paradoks, terjadi?    jawabannya adalah  karena kekuatan agama yang berupa keyakinan rohani tidak dilibatkan. Agama dan keyakinan rohani adalah wujud dari pernyataan perasaan, dunia kepuasan dan kesejukan hati. Sebaliknya, filsafat dan olah falsafah hanya menyuplai kepuasan otak dan pikiran belaka. Tampaknya, apa yang disebut kepuasan itu baru lengkap dan menyeluruh  kalau kepuasan pikiran digabung dengan kepuasan perasaan.  Sekarang kita bertanya, bagaimana Al-Qur'an berbicara tentang hubungan antara masalah keimanan dan kemajuan hidup Al-Qur'an tidak mengajari manusia untuk meraih kemajuan dalam hidupnya dengan berdasar berfalsafah secara ekstrem, seperti berspekulasi, bahwa pada hakikatnya kehidupan ini, mati dan hidup, hanyalah fenomena "dahr", masa (Al-Jatsiyah [45]: 24).
Berfalsafah seperti itu dinyatakan hanya sebagai olah spekulasi (dhann), tidak berdasar ilmu yang benar. demikian kritik Al-Qur'an. Walaupun Al-Qur'an menghargai potensi akal yang menyebabkan manusia mampu berpikir, namun Al-Qur'an tidak membenarkan manusia berpikir secara- ekstrem, yang ujung-ujungnya hanya bertaraf spekulatif tanpa fondasi.
Al-Qur'an mengajari manusia untuk meraih  kemajuannya berdasar keyakinan rohani dan didukung oleh penggunaan potensi akal secara benar. inilah yang disebut keimanan terhadap petunjuk (hidayah) Allah SwT. Petunjuk tersebut berwujud prinsip-prinsip yang perlu dijadikan patokan ketika manusia beriman (Mukmin) akan meraih kemajuan hidupnya. Apa isi prinsip-prinsip tersebut?

Kamis, 09 Agustus 2012

Khutbah Jum'at



Masjid Gunungsari Indah Surabaya mempublikasi materi rubrik Khutbah Jum’at yang berjudul “ Ucapan Yang Membawa Berkah oleh Abu Nabiel Muhammad Ruliyandi “ dari Muhammadiyah Bontang.(Jum’at 25 April 2008). Adapun materi Khutbahnya sebagai berikut:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Khutbah yang Pertama 


Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Salah satu nikmat di antara sekian banyak nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala  kepada kita adalah nikmat lisan. Meskipun kecil bentuknya, namun sangat besar pengaruhnya bagi kabaikan dan keburukan seseorang. Dengan lisan seseorang dapat megungkapkan apa yang dia inginkan, dengan lisan manusia dapat saling berkomunikasi, saling memberikan kebaikan dan manfaat kepada sesama. Tetapi ingat di balik itu semua, lisan juga dapat menjadi sumber bencana dan malapetaka.
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Berbicara memang sesuatu yang gampang dan mudah bagi setiap orang yang memiliki lisan normal, jika yang dimaksudkan hanya sekedar mengeluar kan suara, kata-kata ataupun bunyi maka itu merupakan hal yang mudah. Tetapi kalau yang dimaksudkan adalah mengucapkan kata-kata yang baik, bermanfaat, membawa maslahat maka tidak setiap orang bisa melakukannya dalam setiap kalimat yang dia ucapkan. Oleh karena itu, Islam membimbing kita dalam hal ucapan ini, seperti; “Ucapkanlah perkataan yang mulia, ucapkanlah perkataan yang baik, ucapkankanlah perkataan yang mudah,” dan selainnya. Juga banyak memperingat kan kita dari ucapan yang buruk seperti; Lahwal hadits (ucapan sia-sia), qauluz zuur (ucapan kedustaan dan palsu), lahwun wa la’ibun (kesia-sian dan main-main), qiila wa qala (menyebarkan gosip), laghwun atau lagha, ghibah, namimah dan selainnya.
Sungguh amat keliru jika seseorang berkeyakinan bahwa ucapan itu tidak mempunyai konsekuensi apa-apa. Sebab kalau demikian, maka tidak ada bedanya antara ucapan manusia dengan yang lainnya. Dan juga tidak ada bedanya antara ucapan yang baik dan yang buruk, perkataan kufur dengan keimanan, jujur dengan dusta, benar dengan nifaq dan seterusnya. Sehingga orang yang mengucapkan perkataan baik tidak mendapat pahala apa-apa dan yang berbicara buruk juga tidak akan mendapatkan dosa.
Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Qaaf: 18, artinya,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَكَلَّمْ
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala akan memaafkan bagi ku (kesalahan/dosa) ummatku terhadap apa-apa yang terlintas dalam benaknya (hatinya) selagi dia tidak mengerjakan atau mengucapkannya.” (HR. al-Bukhari).
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Oleh karenanya seorang bijak mengatakan,”Kata-kata yang belum kau ucapkan maka engkaulah yang mengendalikannya, sedangkan kata-kata yang telah kau ucapkan maka dialah yang mengendalikanmu.”
Lisan seseorang adalah merupakan cerminan dari baik dan buruknya orang tersebut, bahkan merupakan salah satu penentu baik buruknya kualitas iman seseorang. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak akan lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lisannya. Dan seseorang tidak akan masuk surga apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan lisannya.” (HR. Imam Ahmad dan selainnya)
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Banyak sekali keuntungan yang akan diperoleh dari Ucapan yang Baik sebagaimana yang dijelaskan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah di antaranya adalah,
• Ucapan yang Baik di antara sebab-sebab seseorang berperilaku baik Allah Subhanahu wata’ala
dan mendapatkan ampunanmengaitkan perintah berkata yang benar dan baik dengan perintah taqwa, dan Dia juga menjelaskan bahwa keduanya (takwa dan ucapan yang benar) akan menjadi berperilaku baik dan mendapatkan ampunan bagi seseorang.Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirmsn yang artinya,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوااللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ. وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 


“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah Subhanahu wata’ala dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah Subhanahu wata’ala memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mena’ati Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. al-Ahzab: 70-71).
Ayat ini menunjukkan tentang kemuliaan dan kedudukan perkataan yang benar dan baik.
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
• Ucapan yang Baik Lebih Baik daripada Sedekah yang Diikuti Ucapan Buruk.Tidak ada seorang pun yang menyangkal bahwa sedekah adalah merupakan amal yang sangat mulia dan baik. Tetapi sedekah yang diberikan boleh jadi tidak memiliki makna apa-apa atau pahala sebagaimana yang dijanjikan Allah subhanahu wata’ala, jika orang yang bersedekah tadi mengiringi sedekahnya dengan ucapan yang buruk, menyakitkan atau yang berbuat riya’
mengungkit-ungkitnya. Bahkan layaknya orang dan hari dan tidak beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala Akhir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
“Perkataan yang baik dan pemberian ma’af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakit kan (perasaan sipenerima). Allah Subhanahu wata’ala Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (QS. al-Baqarah:263)
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sendiri telah menjelaskan, bahwa kalimat yang baik adalah termasuk shadaqah, karena keberadaannya yang dapat membahagia kan orang lain, sebagaimana sedekah yang akan membuat bahagia orang yang disedekahi.
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
• Ucapan yang Baik Merupakan Salah Satu Sarana Terbesar untuk Masuk SurgaRasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَوَكَّلَ لِي مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ وَمَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ تَوَكَّلْتُ لَهُ بِالْجَنَّةِ
“Barang siapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara dua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) maka aku menjamin untuknya surga.” (HR. al-Bukhari).
• Ucapan yang Baik Mendatangkan Keridhaan Allah Subhanahu wata’alaRasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلُ لَيَتَكَلَّمُ بِاْلكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ مَا كَانَ يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ ؛ يَكْتُبُ اللهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلىَ يَوْمٍ يَلْقَاهُ
“Sesungguhnya seseorang mengucapkan perkataan yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala yang mana dia tidak pernah menyangka perkataannya itu akan menyebabkan dampak yang baik, yang karenanya Allah Subhanahu wata’ala akan menulis keridhaan-Nya baginya sampai pada hari dia menemui-Nya.” (HR. Malik, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sabtu, 04 Agustus 2012

Muhammadiyah dan NU sepakat melaksanakan Idul Fitri 1433H tanggal 19 Agustus 2012.




Setelah berbeda dalam penentuan awal puasa Ramadhan tahun 2012 yaitu Muhammadiyah berpuasa lebih awal sehari berdasarkan hasil Hisab yaitu pada tanggal 20 Juli 2012 dan NU bersama ormas lain sepakat dengan pemerintah awal puasa sehari kemudian tanggal 21 Juli 2012.
Adapun masalah 1 Syawal 1433H antara Muhammadiyah dan NU didasarkan posisi hilal dibawah ufuk sepakat bulan baru 1 Syawal 1433H jatuh pada tanggal 19 Agustus 2012 yang disampaikan oleh KH Marifat Imam sebagai salah satu pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga anggota Komisi Fatwa MUI Pusat.
 Hal yang sama dikemukakan oleh KH Masdar F Masudi  sebagai Rois Syuriah PBNU menurut kalender NU menetapkan 1 Syawal 1433H jatuh pada tanggal 19 Agustus 2012.Menurut KH Masdar F.Masudi “ Sebenarnya NU juga mempunyai hitungan hisab yang diperkukuh dengan rukyat atau melihat hilal atau bulan itu”.
Dengan 1 Syawal 1433H jatuh pada tanggal 19 Agustus 2012 inilah sebuah kebersamaan yang ditunggu-tunggu umat Islam di Indonesia.
Walaupun Muhammadiyah dan NU sepakat melaksanakan lebaran 1 Syawal 1433H bersama namum pemerintah melalui Kementrian Agama , tetap akan memutuskan melalui siding isbat setelah memperoleh konfirmasi rukyat Badan Hisab dan Rukyat dari berbagai wilayah di Indonesia.Semoga penetapan pemerintah masalah Idul Firti 1433H jatuh pada tanggal 19 Juli 2012 sehingga umat Islam di Indonesia merayakan lebaran bersama. Amin.(Masjid GSI)
Sumber Pustaka : http://marhenyantoz.wordpress.com/2012/08/03/nu-muhammadiyah-sepakat-idul-fitri-19-agustus-2012/

Rabu, 01 Agustus 2012

Sholat Idul Fitri 1433H

Masjid Gunungsari Indah Surabaya


Menyelenggarakan sholat Idul Fitri 1433H, pada :

Hari                       :  Ahad

Tanggal                 :  19 Agustus 2012/ 01 Syawal 1433H

Waktu                   :  Pukul 06.00 WIB

Imam & Khotib    :  Drs. Farid Anwar - Surabaya

Tempat                 :  Tanah Lapang Perumahan GSI

                                antara Blok EE & Blok Z

 


 

 

 

                                                 
  

Hari Raya Idul Fitri 1433H



Masjid Gunungsari Indah Surabaya melaksanakan sholat Idul Fitri pada tanggal 19 Agustus 2012 hal ini mengikuti Ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dituangkan dalam Maklumat nomor 01/MLM/I.O/E/2012 yang di publikasi oleh VIVAnews sebagai berikut :
..................
VIVAnews - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan Jumat kliwon 20 Juli 2012 sebagai awal puasa tanggal 1 Ramadan 1433 H. Untuk pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri, Muhammadiyah menetapkan tanggal 19 Agustus 2012 atau pada 1 Syawal 1433 H.
Ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu dituangkan dalam Maklumat dengan nomor 01/MLM/I.0/E/2012 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Dzulhizzah 1433 Hijriyah, serta imbauan menyambut Ramadhan 1433 H.
Maklumat tertanggal 15 Juni 2012 itu ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Sekretaris Umum Agung Danarto di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta. Penetapan itu berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Muhammadiyah menyadari akan adanya perbedaan penetapan awal mula Ramadhan bila dibandingkan dengan organisasi lain. Maka itu, Muhammadiyah mengeluarkan imbauan khusus untuk warganya akan adanya kemungkinan perbedaan penetapan 1 Ramadan itu.
Muhammadiyah mengimbau seganap warga Muhammadiyah berpegang teguh kepada hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah diminta memahami, menghargai, dan menghormati adanya perbedaan. (sj)

.....................
Sumber pustaka : http://us.nasional.news.viva.co.id/news/read/332661-muhammadiyah--awal-puasa-20-juli-2012